Menjelang hari pernikahan, kita sering kali terlalu fokus pada apa yang akan kita dapatkan di
masa depan, sampai kita lupa mendengarkan bagian dari diri kita yang sebenarnya sedang
bersiap untuk melepas.
Di luar, semua orang sedang merayakan keputusanmu. Di atas meja, tumpukan urusan vendor
mungkin sudah hampir rampung, dan undangan digitalmu sudah siap disebarkan. Namun,
pernahkah kamu mendapati dirimu terbangun di jam dua pagi, menatap langit-langit, dan
tiba-tiba dadamu terasa sesak oleh sebuah rasa asing yang sulit didefinisikan?
Itu bukan karena kamu ragu pada pasanganmu, bukan pula karena kamu tidak bahagia. Rasa
sesak itu muncul karena di dalam keheningan kamarmu, kamu menyadari bahwa kamu sedang
melakukan proses perpisahan yang sunyi dengan masa lalumu.
Secara sadar atau tidak, kamu sedang bersiap melepas status lajangmu. Kamu sedang bersiap
melangkah keluar dari kamar masa kecil yang selama puluhan tahun menjadi saksi bisu
tempatmu menangis, tertawa, dan menyimpan rahasia sendirian. Kamu menatap punggung
orang tuamu yang kian menua, menyadari bahwa setelah hari pernikahan itu, waktu untuk
sekadar duduk ngeteh di sore hari bersama mereka tidak akan pernah sama lagi. Kamu sedang
bersiap mengucapkan selamat tinggal pada versi dirimu yang lama, untuk menyambut identitas
baru yang akan melekat selamanya.
Jangan mengutuk dirimu jika kamu menangis di ujung kasurmu malam ini. Kamu tidak sedang
ragu. Kamu hanya sedang menjadi manusia yang utuh, manusia yang tahu cara menghargai
setiap babak kehidupan yang pernah dilaluinya.
Menghadapi Cermin: "Apakah Aku Bisa Menjadi Rumah yang
Baik?"
Perasaan kehilangan yang halus itu biasanya berjalan beriringan dengan sebuah bisikan batin
yang menakutkan: Apakah aku bisa?
Di balik megahnya dekorasi dan riuhnya tepuk tangan tamu undangan, pernikahan pada
akhirnya adalah tentang dua manusia biasa yang sepakat untuk hidup sewajah. Tentang
bagaimana nanti kita bertoleransi pada kebiasaan buruk yang baru ketahuan setelah tinggal
bersama, dan bagaimana kita tetap memilih untuk saling memeluk di hari-hari terburuk.
Wajar jika kamu merasa cemas. Takut mengecewakan, takut tidak mampu menjadi nahkoda
atau jangkar yang kuat, atau takut kehilangan dirimu sendiri setelah menjadi seorang istri atau suami.
Di sini, di balik nama Digimo, kita ingin kamu tahu satu hal: ketakutanmu adalah bukti bahwa kamu menghargai kesakralan janji yang akan kamu ucapkan. Orang yang tidak peduli tidak akan pernah merasa cemas. Rasa takutmu malam ini adalah tanda bahwa kamu menganggap
komitmen ini sebagai sesuatu yang teramat mulia.
Duduklah Sebentar, Mari Kita Peluk Rasa Itu Bersama
Kita adalah sesama manusia yang berjalan bersamamu. Kita tidak ingin hanya hadir di saat
kamu tersenyum bahagia di pelaminan. Kita ingin hadir di malam-malam sunyimu, menjadi
sahabat yang memeluk pundakmu dan mengingatkan bahwa kamu tidak sendirian merasakan
pergolakan ini.
Jadi, jika malam ini rasa cemas dan haru itu datang lagi, jangan dilawan. Duduklah sebentar.
Peluk dirimu yang sudah bertahan dan berjuang sejauh ini. Sadari bahwa seluruh rasa rindu
pada masa lalu dan ketakutan akan masa depan yang bercampur menjadi satu ini adalah
bumbu paling sakral sebelum langkah besar itu diambil.
Tarik napas dalam-dalam. Masa lalumu telah membentukmu menjadi pribadi yang hebat, dan
masa depanmu bersama dia sudah menanti dengan hangat. Karena pada akhirnya, seluruh
pergulatan batin yang kamu lalui di ruang sunyi ini adalah bagian dari cinta yang sedang kamu
perjuangkan. Dan kelak, ia akan sangat layak untuk kita rayakan.